Sabtu, 24 Februari 2018

Pengalaman Ovum Pick Up di Mahkota Medical Center



Alhamdulillah kami sudah Ovum Pick Up (OPU) siang tadi. Deg-degan, takut dan nervous. Bukan karena takut sakit atau apa, tetapi lebih ke "nanti telurnya dapat berapa". Setiap proses di program bayi tabung menentukan apakah program bisa jalan terus atau ga. Jadi, sebagai pasien kita harus siap kalau sewaktu2 ada bad news, entah dari hormon yang tiba-tiba drop, P4 yang terlalu tinggi, folikel bermasalah, dll.

Selasa, 20 Februari 2018

Bagusnya Kualitas Pelayanan Dokter (ku) di Mahkota Medical Center


Mahkota Medical Center

Actually, living away from home for about a month to do ivf program is a lil bit hard for me. I have to adjust to my new routine. I used to have 8am - 5pm job, but suddenly jobless here, far from family and friends that we can talk to, can't go touring to another city/country because I have to get gonal, menopur, and ovidrel shots every morning, miss Indonesian food, etc. BUT... I think it's worth the fight because we have the nicest doctor we could ever asked. Ada beberapa pelayanan dokter di sini yang membuat kami terharu dan benar2 amazed.

Kamis, 15 Februari 2018

Trees at St. Paul's Church Malacca


I love trees.


Emotional Turmoil


God's creation

Well, you can not expect everyone to understand you. Take a deep breath. Look around. There are so many beautiful things in life. Don't get sucked up in your sadness.

Efek Konsumsi DHEA




Pelajaran yang bisa diambil dari konsultasi dengan dr Ahmad kemarin adalah ... teng teng teng... JANGAN konsumsi obat tanpa anjuran/resep dokter.

Jadi ceritanya, kami para pejuang IVF ini biasanya gabung di grup-grup IVF. Grup ini bisa berupa grup chatting What's Up, Telegram, forum, dll. Grupnya juga macem-macem, ada yang grup IVF yang isinya pasien di dokter yang sama, ada grup IVF yang isinya pasien di rumah sakit yang sama, ada grup IVF Female Daily Forum, dll. Di grup itu, biasanya kami sharing banyak hal, mulai dari saling memotivasi, saling bagi informasi tentang dokter, bagi tips, kisah sukses, kisah gagal, dll. Alhamdulillah grupnya bantu banget. Uda gitu jadi ngerasa ga sendiri. Apalagi aku yg bawaanya selalu pengen sharing, jadi ada tempat pelampiasan. =D

Selasa, 13 Februari 2018

Ukuran Ovarium Kiri Lebih Kecil

So, basically masalah kami sekarang adalah ukuran ovariumku yg sebelah kiri lebih kecil daripada yg kanan. Konsekuensi ukuran ovarium yang kecil adalah pada kekuatan produksi telur. Ibaratnya pabrik, pabrik yang lebih besar akan menghasilkan produk yang lebih banyak. Begitu pun juga sebaliknya. Karena ovarium kiriku kecil, maka produksi telurnya pun lebih sedikit.

Tadi adalah pertemuan pertama kami dengan Dr Ahmad Saifuddin. Seperti biasa, dokter Ahmad sangat ramah dan sabar dalam menjelaskan semuanya. Mulai dari case kami, treatment yang akan diambil, sampai the worst scenario. Actually, Its so scary playing with possibilities. But, we have to move forward and try. Ya kan?

Hunting Penginapan dan Hotel untuk Longstay di Malaka

Program bayi tabung membutuhkan waktu yang lama, mungkin sekitar 28 hari (satu siklus menstruasi). Nah... selama 28 hari itu, kami akan stay di Malaka. So, PR banget nih untuk nyari hotel yang murah tapi ga jelek-jelek amat. Aku dan suami punya preferensi masing-masing untuk menentukan kneyamanan suatu hotel. Aku paling ga suka sama lingkungan yang kotor, meanwhile suami paling ga suka tinggal di kamar sempit. Jadi, selama dua hari kemarin kami mencari penginapan n hotel yg paling sesuai dengan kriteria tadi.

Minggu, 11 Februari 2018

Bayi Tabung di Mahkota Medical Centre Malaka


Bismillah =D

Assalamu'alaikum
Apa kabar?
Semoga semuanya sehat selalu yaaa

Setelah lebih dari satu tahun ngumpulin tekad, semangat, n dana, akhirnya kami mau program bayi tabung lagi niiiih... deg-degan sangat, galau sangat, dan takut sangat... Tidak seperti bayi tabung pertama yang cenderung cuek, kali ini aku lebih dagdigdug banget. Fyuhhh... pas ngetik ini aja, my heart skipped a beat. Payah ya. haha... Tapi, kalau tidak segera dicoba lagi, makin banyak waktu yang terbuang, ya kan?

Kami berdua sudah memutuskan untuk program bayi tabung di Mahkota Medical Centre Malaka dengan Dr Ahmad Saifuddin bin Ahmad Yahaya. Jadi, tanggal 10 Februari 2018 kemarin, kami pun berangkat ke Malaka. Persiapan alhamdulillah ga ada. Hahaha... ini aja kami masih hunting penginapan yang murah. Untuk sementara, kami menginap di Hotel Explorer dulu. Tiket pesawat juga booking lumayan dadakan. Alhamdulillah kami dapet tiket gratis Malaysia Airlines dari Papa Ti. Yay... horee... thak youuu papa ti mama ti... Oia, Ibu mertua juga bawain bekal sambal2an dan beberapa bahan makanan just in case kami mau masak. Secara kan kami bakal tinggal lumayan lama di Malaysia. Thank you bu...

Bismillahirrohmanirrohim... Ya Alloh... mudahkan dan lancarkan langkah kami... tenangkan hati kami... kabulkanlah permohonan kami... aamiin...


Pertama kali naik Malaysia Airlines, ternyata masih oke Garuda Indonesia ya. Yaiyalah harganya aja beda jauh. =p

Ga sempat foto2 pas naik pesawat, ngantuk bgt soalnya kwk 
KLIA 1
KLIA 1




Beli kartu perdana dulu biar bisa internetan

My Man

welcome Melacca

Semangat ya yg... =D



Hotel Explorer


view dari kamar

Senin, 11 Desember 2017

Apakah Itu Flexible Work?



taken from google

Ada berbagai alasan kenapa sebagian pegawai menginginkan untuk bisa bekerja secara fleksibel (flexible work). Beberapa diantaranya adalah biaya transportasi yang mahal, waktu tempuh ke kantor yang panjang, transportasi umum yang belum memadai, jarak antara rumah dan kantor yang jauh, stress karena kemacetan, minimnya waktu yang bisa dihabiskan dengan anak, dan keperluan terkait kesehatan. Belum lagi untuk pegawai yang tempat kerjanya remote (karena instansi yang tersebar di seluruh Indonesia), mereka tentunya memerlukan tambahan waktu untuk bisa mengunjungi keluarganya di kampung halaman. Untukku sendiri, flexible work merupakan kebutuhkan karena aku tipikal pegawai yang mudah terdistraksi. Lingkungan kerja yang kondusif dan tenang sangat membantu untuk berkonsentrasi dan menjadi produktif.

Curhat dikit ya… Pernah aku bilang ke atasan kalau mau kerja di Perpus aja, eh atasan malah bilang “kerja di sini aja si mbak”. Huhuuu. Terus kalau di ruangan aku menyendiri di pojokan, dikiranya aku mengasingkan diri. Kwkwk. Tapi salahku juga karena aku ga pernah bilang ke atasan kalau aku susah berkonsentrasi. =( Btw, Kadang aku suka kesel n nyesel sendiri kalau banyak sekali waktu yang terbuang sia-sia karena hal yang tidak perlu, misalnya makan siang kelamaan dan ngobrol yang berlebihan.

Back to topic

Flexible work semakin banyak diterapkan oleh berbagai perusahaan dan instansi. Menurut survey yang dilakukan Gallup, pada tahun 2016 pegawai di Amerika yang bekerja dari jauh mencapai 43% dari total tenaga kerja di sana. Jika dibandingkan dengan persentase di tahun 2012 yang mencapai angka 39%, maka bisa disimpulkan bahwa trend pegawai yang bekerja dari jauh terus mengalami peningkatan. Flexible work telah digunakan oleh berbagai institusi sebagai strategi dalam mengelola SDM. Kalau di APSC sendiri, Flexible Work sudah merupakan bagian dari rekrutmen dan retention initiatives, untuk men-support employee yang cacat, untuk mempromosikan budaya kerja yang positif, menjadi bagian dari strategi pengelolaan absensi, dan untuk memfasilitasi lingkungan kerja yang aman dan sehat. Menurut data APSC, di tahun 2013 Flexible Work banyak digunakan oleh pegawai yang memiliki masalah kesehatan. Berdasar Fair Work Act 2009, pegawai di Australia bisa mem-propose Flexible Work arrangements.

Setahun terkahir ini makin banyak pegawai yang resign dari kantor. Gimana kalau menerapkan kebijakan Flexible Work ini? Kali aja jadi nilai tambah kantor biar pegawai makin betah. =p

So, apakah itu flexible work?


Barbara Pocock mendefinisikan konsep work-life balance sebagai berikut:

“Orang-orang memiliki ukuran kontrol atas kapan, dimana, dan bagaimana mereka bekerja. Hal itu akan tercapai ketika hak individu untuk memenuhi kehidupan di dalam dan di luar pekerjaannya diterima dan dihargai sebagai norma untuk saling menguntungkan baik individu tersebut, bisnis, maupun masyarakat”.

Jadi, workplace flexibility itu terjadi kalau kita (sebagai pegawai) bisa menentukan sendiri kapan, dimana, n bagaimana pekerjaan kita diselesaikan. Aku baru tau loh ternyata Flexible Work itu tidak hanya berupa flexi time (seperti yang diterapkan di kantor suami), tetapi ada beberapa macam bentuk. 

Menurut Australian Public Service Comission, ini nih bentuknya:
a.    Flexible working hours
Reduced hours, compressed working weeks, split shifts, autonomy in start and finish times
b.    Flexible working places
Working from home, working from another location, use of social media to work on the move
c.     Flexible working practices
      Purchased leave, phased retirement, job-sharing, annualised hours


I need flexible working place pleaseee.... T-T bersambung yaa ceritanya...

Oia, sebagian besar info di atas bisa dibaca di:
  gallup
forbes
Australian Public Service Commission

Aku cuma merangkum azza... hehe

Jumat, 01 Desember 2017

Flexible Work Untuk PNS

Beruntung sekali Senin kemarin mendapat kesempatan untuk mendengarkan presentasi dari salah satu pegawai World Bank tentang Human Capital Development. Surprisingly, ybs bercerita tentang flexible work di public sector dan men-challenge kami semua untuk membuat kajian tentang topik tersebut. Wow. Menarik bgt kan? Kalau aku sih sangat tertarik dan mau banget untuk membuat kajiannya. Saking antusiasnya, tanpa babibu aku nyari jurnal rujukan di google scholar doong. Too bad kebanyakan jurnalnya berbayar. Huhuuu. Sangat dimengerti sih karena membuat jurnal tuh susah. 


Nah... waktunya banyak baca nih... semoga istiqomah ya niatnyaa.... aamiin...


PNS yay!! 

Ads Inside Post